Kami siap melayani dengan protokol kesehatan

MENGUAK PERADABAN HINDU NUSANTARA DI CANDI PRAMBANAN

Menguak Peradaban Hindu Nusantara di Candi Prambanan

Candi Prambanan, siapa yang tak kenal dengan candi cantik satu ini? Candi ini menjadi candi Hindu terbesar se-Indonesia bahkan se-Asia Tenggara dan ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO sejak 1991 silam selain Candi Borobudur. Lokasinya yang berdekatan seakan menjadi saksi bagaimana umat Hindu dan Budha kala itu mampu hidup berdampingan dan membangun peradaban besar di Nusantara.
Hingga saat ini tak ada yang bisa memastikan kapan tepatnya dan atas perintah siapa candi ini dibangun. Namun berdasarkan prasasti Syiwagrha, besar kemungkinan candi ini dibangun pada masa pemerintahan raja dari Wangsa Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu. Prasasti ini tepatnya ditulis pada pertengahan abad ke-9 yang tertulis tahun 778 Saka (856 M).
Jika anda memperhatikan, terdapat tiga dari 8 candi utama yang biasa disebut sebagai candi Trimurti (“tiga wujud”), dipersembahkan untuk 3 dewa Hindu tertinggi: Dewa Brahma (Sang Pencipta), Wisnu (Sang Pemelihara), dan Siwa (Sang Pemusnah). Namun, tujuan pembangunan candi ini adalah untuk memuliakan dewa Siwa. Siwagrha atau Siwalaya merupakan nama asli dari bangunan ini. Konon nama tersebut diambil dari Bahasa Sansekerta.
Akibat letusan Gunung Merapi, candi ini sempat tertimbun dan terbengkalai. Namun beratus-ratus tahun kemudian barulah dipugar. Pemugaran berlangsung dari tahun 1930 dan rampung pada 1953. Di Candi Prambanan ini diperkirakan terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan. Namun, hanya 18 candi yang berhasil dipugar, sisanya adalah tumpukan batu yang berserakan.
Denah asli Candi Prambanan berbentuk persegi panjang, terdiri atas halaman luar dan tiga pelataran, yaitu Jaba (pelataran luar), Tengahan (pelataran tengah) dan Njeron (pelataran dalam). Halaman luar merupakan areal terbuka yang mengelilingi pelataran luar. Pelataran luar berbentuk bujur dengan luas 390 m2. Pelataran ini dahulu dikelilingi oleh pagar batu yang kini sudah tinggal reruntuhan. Pelataran luar saat ini hanya merupakan pelataran kosong. Belum diketahui apakah semula terdapat bangunan atau hiasan lain di pelataran ini.
Selain keindahan candi, di tempat ini anda juga bisa belajar mengenai seni dan sastra melalui relief yang telah terpahat. Cara membaca relief ini anda harus masuk dari pintu sebelah timur kemudian berjalan mengitari Candi Trimurti searah putaran jarum jam. Relief di bagian dalam pagar ini memiliki dua kisah yaitu mengenai Ramayana dan Krishnayana. Jika merasa kesulitan, anda bisa membayar jasa seorang pemandu wisata untuk menjelaskan mengenai relief yang ada.
Dengan mengitari kompleks percandian seluas 39,8 hektar ini, anda bisa mengambil foto sebaik mungkin dari arah manapun karena tak ada yang bisa memungkiri keelokan Candi Prambanan. Anda akan dibuat terkagum dengan reliefnya yang bisa dibilang sangat mustahil jika dipahat oleh manusia di tengah kurangnya kemajuan teknologi kala itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *