Kami siap melayani dengan protokol kesehatan

MINI HOLLYWOOD DI YOGYAKARTA

Mini Hollywood Di Yogyakarta

Di atas sebuah tanah lapang seluas sekitar 2 hektar telah dibangun sejumlah replika konstruksi zaman kolonial Belanda yakni, Studio Alam Gamplong. Studio ini dibangun atas prakarsa Wanita berusia 91 tahun, Mooryati Soedibyo (pengusaha sukses pendiri Mustika Ratu) yang ingin menyumbangkan sebuah film untuk bangsa. Beliau ingin film tersebut dapat memberikan pelajaran tentang pengembangan karakter dan kepemimpinan. Lalu, dipilihlah tokoh Sultan Agung sebagai inspirasinya yang kemudian menjadi cikal bakal sebuah karya dari sutradara asal Yogyakarta, Hanung Bramantyo dengan judul Sultan Agung The Untold Story. Film ini mengambil setting sekitar abad 16 dan 17, dimana Indonesia masih berada pada kekuasaan Belanda, sehingga di Gamplong Studio terdapat benteng Belanda, bangunan Cina, Joglo, hingga nuansa Betawi.
Bukan tanpa alasan tempat ini disebut sebagai mini hollywood. Hal ini dikarenakan tak lepas dari pemanfaatan Studio Alam Gamplong sebagai lokasi syuting film Sultan Agung The Untold Story. Tidak hanya itu, film Bumi Manusia juga melakukan pengambilan gambar di sana. Seusai pengambilan film selesai, set yang telah didirikan tidak dirobohkan namun diberikan kepada Bupati Sleman, Sri Purnomo untuk dijadikan sebagai tempat wisata baru berbasis edukasi, dimana nantinya tempat ini akan dikembangkan sebagai pusat kebudayaan, film, dan dokumentasi.
Setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Juli 2018, kini Studio Alam Gamplong yang sekaligus telah menjadi tempat wisata tengah ramai menarik perhatian masyarakat dikarenakan berbeda dari tempat wisata yang lainnya. Adapun salah satu bangunan yang menjadi perhatian ketika berkunjung ke studio ini yakni replika Benteng Batavia, selain karena replika ini mirip dengan aslinya, hal ini dikarenakan faktor sejarah dimana Benteng ini menjadi cikal bakal terbentuknya Indonesia. Keluar dari Benteng Batavia, di sisi kiri benteng terdapat replika bangunan Kampung Pecinan, dimana kampung ini pada masa Hindia Belanda menjadi tempat mengumpulkan masyarakat Tionghoa untuk melakukan pemisahan berdasarkan latar belakang rasial pada zaman Hindia Belanda. Selain itu, terdapat bangunan lagi yang merupakan replika kampung Mataram, yang memiliki potret kehidupan masyarakat Jawa pada tahun 1600-an. Tak kalah menawan, terdapat bangunan yang menggambarkan Pendopo Sultan Agung yang berada jauh di seberang replika kompleks kampung Mataram.
Studio ini sangat cocok bagi anda yang ingin berfoto dengan tema vintage atau mengintip, mengenang, dan merasakan bagaimana suasana Indonesia pada abad ke 16 dan 17. Untuk memasuki Studio Alam Gamplong tidak ada tarif khusus yang dibebankan tetapi, tersedia kotak di dekat pintu masuk dimana pengunjung boleh memberi berapa pun seikhlasnya. Namun, hal ini beda lagi kaitannya apabila anda berkunjung membawa kamera atau dengan niat ingin berfoto maka dikenakan tarif sebesar Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Adapun fasilitas yang tersedia di tempat ini antara lain adalah beberapa warung dan tempat untuk beristirahat sejenak.
Bertempat di Dusun Gamplong 1, Sumberrahayu, Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta atau tepatnya 16 kilometer dari Titik Nol Yogyakarta, studio ini beroperasi mulai pukul 08.00-17.00 WIB. Untuk menuju ke sana, anda bisa mulai dari Titik Nol KM dan langsung menuju arah barat, kemudian berjalan lurus mengikuti jalan utama hingga sampai di Jalan Wates KM 15. Setelah itu, cari pertigaan Klangon dan ambil belokan ke arah kanan sampai anda menyebrangi jembatan rel kereta api. Kemudian, anda ambil belokan ke arah kiri. Mulai dari sini, anda hanya perlu mengikuti jalan saja sampai bertemu dengan sebuah lapangan. Setelah itu, ambil jalan sebelah kiri dan sekitar kurang lebih 300 meter dari titik tersebut, anda akan melihat pintu masuk menuju Studio Alam Gamplong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *